Di kota yang sama denganmu / Di tempat yang dekat rumahmu / Bagaimana mungkin kita tak pernah bertemu?
Sore itu, Makassar berubah jadi kelabu. Hujan turun tanpa aba-aba, mengguyur kawasan sekitar Bandara Internasional Sultan Hasanuddin. Jalanan basah, ritme kota melambat, dan suara rintik menjadi satu-satunya hal yang terdengar utuh.Sebagai seseorang yang datang ke kota ini dengan sisa-sisa cerita yang belum selesai, aku mulai mengerti bahwa tinggal di tempat yang sama dengan seseorang yang tak lagi bisa dijangkau bukan soal jarak. Ini tentang bagaimana menemukan cara baru untuk tidak lagi menunggu.
Langkahku disambut oleh sebuah ruang tunggu yang minimalis dan sunyi sebelum lift menjemputku naik. Di sana, pendar cahaya hangat dari plafon menyala tenang, tidak berusaha menarik perhatian. Dari titik itu, aku mulai paham bahwa ada tempat-tempat yang diam-diam paling jujur saat menerima rasa lelah.
Kini tiba saatnya membuka pintu unit Tipe Studio di Tamansari Skylounge. Dari balik jendela kaca, hujan jatuh seperti garis-garis yang tidak selesai. Di dalam kamar yang fungsional ini, tidak ada yang perlu dikejar. Tidak ada pula yang perlu dijelaskan.
“Apa akan ada waktunya? / Apa sudah habis masanya? / Apa masih ada kesempatan kita berjumpa?”
Secangkir kopi di tanganku sudah mendingin, tapi aku membiarkannya begitu saja. Di kejauhan, lampu-lampu pesawat terus bergerak membelah tirai hujan, datang dan pergi tanpa pernah benar-benar singgah. Di kota yang sama, aku akhirnya mengerti: bahwa ada tempat-tempat yang mungkin tidak langsung menyembuhkan luka, tapi setidaknya membantu kita untuk berhenti sebentar dari hal yang terus kita kejar. Sore ini, aku tahu bahwa tidak salah aku memilih tempat ini sebagai tempat tinggal.
Baca Juga :Tamansari SkyloungeMakassar: relaksasi di tamansari skylounge makassar

